Perhatian! Ternyata, Waktu Makan Malam Mempengaruhi Kesehatan

Aktivitas makan malam memang tidak sepenuhnya disalahkan, karena namanya perut juga terkadang memberikan sinyal untuk segera diisi, baik dengan cemilan roti atau pergi mencari cafe atau restoran dan bahkan angkringan untuk menutupi kelaparan mendadak yang harus diredakan. Baru baru ini sebuah penelitian mengungkapkan bahwa tidak hanya jenis makanan saja yang bisa mempengaruhi kesehatan, melainkan juga waktu makan malam juga berpengaruh. Hal ini dijelaskan melalui interaksi jam tubuh, metabolisme, dan sistem pencernaan yang saling berinteraksi dengan cara yang kompleks.

Dalam setiap sela yang ada didalam tubuh kita, terdapat jam molekuler yang mengatur tubuh agar berfungsi sesuai dengan jadwal yang dinamakan Ritme Cicardian. Ritme Cicardian membantu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, tidur, dan perilaku makan. Jam ini terjaga agar sinkron satu sama lain, dan juga dengan waktu di lingkungan luar. Melalui sinyal dari bagian kecil yang terdapat pada jaringan otak yang disebut SCN ( Supraciasmatic Nucleus). SCN memiliki hubungan dengan lingkungan luar melalui sekumpulan sel responsif terhadap cahaya yang terletak pada bagian mata yang disebut dengan ipRGs (intrincically photoreceptive retinal ganglion cells).

Ketika teman teman bepergian ke luar negeri maka secara langsung pengaturan waktu paparan cahaya berubah,dan jam tubuh tertarik ke arah yang sama. Meskipun pada organ dan jaringan tubuh yang berbeda menyesuaikan pada masing-masing tingkat yang berbeda. Dan hasilnya yang sering kita rasakan adalah Jetlag, seperti merasa mengantuk serta bangun dan tidur diwaktu yang salah, karena perubahan waktu disetiap negara yang berbeda, serta pencernaan serta rasa tidak enak secara umum. Dalam hal ini, cahaya tidak selalu menentukan perubahan secara umum. Saat makan, maka organ hati dan organ pencernaan mengalami perubahan jam untuk bekerja.

Kita sering mengalami perubahan jam waktu, dan juga pola makan da tidur yang berbeda yang membuat jam tubuh juga akan mengalami perubahan, dikarenakan beda waktu yang sangat kontras dengan aktivitas yang kita lakukan. Pada malam hari biasanya kita beristirahat, sedangkan di negera tempat kita singgah sedang dalam waktu siang yang mengharuskan untuk beraktivitas.

Proses kompleks, seperti karbohidrat dan metabolisme lemak membutuhkan koordinasi dengan proses pada usus, hati, pankreas, otot, dan jaringan lemak. Proses yang terganggu pada jaringan tersebut akan membuat kerja yang kurang efisien, dan jika tidak segera beradaptasi, maka akan menimbulkan penyakit dikemudian hari. Ketika seseorang makan malam di tempat yang berbeda waktu, maka glukosa dalam darah akan menetap lebih lama, yang dalam jangka panjang akan meningkatkan diabetes tipe 2, dimana pankreas tidak lagi menghasilkan cukup insulin.

Lantas bagaimana cara kita mensiastinya ditengah kegiatan di negara yang berbeda karena memang tuntutan pekerjaan atau sedang melakukan long trip? Pertama, lakukan konsistensi dalam istirahat malam 7 sampai 8 jam setiap hari, Kita bisa mengatur jadwal kegiatan dari pagi sampai dengan sore hari waktu setempat, serta pastikan mulai jam 10 malam sampai jam 5 pagi kita istirahat malam tanpa aktivitas lainnya, kecuali saat ke toilet atau kamar mandi. Kedua adalah segeralah untuk sarapan pagi dengan tujuan memberikan respons pada jaringan pencernaan yang menjukkan waktu sudah pagi, sehingga proses kinerja tubuh akan berjalan menyesuaikan dengan aktivitas asupan pertama yaitu makan pagi.

Ketika Anda kembali lagi ke negara asal, maka terapkan sistem yang sama disesuaikan dengan perubahan waktu awal dimana kita tinggal, serta hindari makan malam dengan pola yang sudah kita miliki yaitu 7 – 8 jam waktu istirahat dimalam hari. Usahakan makan malam jangan sampai melebihi pukul 5 sore. Karena aktivitas malam hari lebih sedikit dan makanan yang kita konsumsi akan berubah menjadi lemak yang tak sehat. Intinya adalah pola pengaturan makan dan pembiasaan waktu makan baik pagi, siang atau sore.

About The Author

Reply